Dosa Besar.
yaitu dosa yang disertai
ancaman hukuman di dunia,
atau ancaman hukuman di
akhirat.
Abu Tholib Al-Makki berkata:
Dosa besar itu ada 17 macam,
yaitu :
4 macam di hati, yaitu:
1. Syirik.
2. Terus menerus berbuat
maksiat.
3. Putus asa.
4. Merasa aman dari siksa Allah.
4 macam pada lisan, yaitu:
1. Kesaksian palsu.
2. Menuduh berbuat zina pada
wanita baik-baik.
3. Sumpah palsu.
4. mengamalkan sihir.
3 macam di perut. yaitu :
1. Minum Khamer.
2. memakan harta anak yatim.
3. memakan riba.
2 macam di kemaluan. yaitu :
1. zina.
2. Homo seksual.
2 macam di tangan. yaitu :
1. membunuh.
2. mencuri.
1 di kaki, yaitu :
lari dalam peperangan
1 di seluruh badan, yaitu :
durhaka terhadap orang tua.
2. Dosa kecil.
Yaitu dosa-dosa yang tidak
tersebut diatas
3. Dosa kecil yang menjadi besar
3.1. Yaitu dosa kecil yang
dilakukan terus menerus.
Rasulullah bersabda: tidak ada
dosa kecil apabila dilakukan
dengan terus menerus dan tidak
ada dosa besar apabila disertai
dengan istighfar. Allah juga
berfirman:
“Dan (juga) orang-
orang yang apabila
mengerjakan perbuatan keji
atau menganiaya diri sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu
memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa
selain daripada Allah? Dan
mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang
mereka mengetahui.
” (QS. Ali
Imran [3]: 135)
3.2. Menganggap remeh akan
dosa.
Rasulullah bersabda:
“
Sesungguhnya seorang
mu’min dalam melihat
dosanya, bagaikan seorang yang
berada di puncak gunung, yang
selalu khawatir tergelincir jatuh.
Adapun orang fasik dalam
melihat dosanya, bagaikan
seseorang yang dihinggapi lalat
dihidungnya, maka dia usir
begitu saja.
” (HR. Bukhori
Muslim)
3.3. Bergembira dengan
dosanya.
Allah berfirman:
“Dan apabila
dikatakan kepadanya:
“
Bertakwalah kepada Allah”,
bangkitlah kesombongannya
yang menyebabkannya berbuat
dosa. Maka cukuplah
(balasannya) neraka Jahannam.
Dan sungguh neraka Jahannam
itu tempat tinggal yang
seburuk-buruknya.” (QS. Al
Baqarah [2]: 206)
3.4. Merasa aman dari makar
Allah.
Allah berfirman:
“Apakah tiada
kamu perhatikan orang-orang
yang telah dilarang
mengadakan pembicaraan
rahasia, kemudian mereka
kembali (mengerjakan) larangan
itu dan mereka mengadakan
pembicaraan rahasia untuk
berbuat dosa, permusuhan dan
durhaka kepada Rasul. Dan
apabila mereka datang
kepadamu, mereka
mengucapkan salam kepadamu
dengan memberi salam yang
bukan sebagai yang ditentukan
Allah untukmu. Dan mereka
mengatakan pada diri mereka
sendiri:
“Mengapa Allah tiada
menyiksa kita disebabkan apa
yang kita katakan itu
?”
Cukuplah bagi mereka neraka
Jahannam yang akan mereka
masuki. Dan neraka itu adalah
seburuk-buruk tempat
kembali.
” (QS. Al Mujadilah
[58]: 7)
3.5. Terang-terangan dalam
berbuat maksiat.
Rasulullah bersabda:
“Semua
ummatku akan diampunkan
dosanya kecuali orang yang
mujaharah (terang-terangan
dalam berbuat dosa) dan yang
termasuk mujaharah adalah:
Seorang yang melakukan
perbuatan dosa di malam hari,
kemudian hingga pagi hari Allah
telah menutupi dosa tersebut,
kemudian dia berkata: wahai
fulan semalam saya berbuat ini
dan berbuat itu. Padahal Allah
telah menutupi dosa tersebut
semalaman, tapi di pagi hari dia
buka tutup Allah
tersebut.
” (HR. Bukhori
Muslim)
3.6. Yang melakukan perbuatan
dosa itu adalah seorang yang
menjadi teladan.
Rasulullah bersabda:
“
Barangsiapa yang memberi
contoh di dalam Islam dengan
contoh yang jelek, dia akan
mendapat dosanya dan dosa
orang yang mengikutinya
setelah dia tanpa dikurangi dosa
tersebut sedikitpun.
” (HR.
Muslim)
Jalan Menuju Taubat
1. Mengetahui hakikat taubat.
Hakikat taubat adalah: Menyesal,
meninggalkan kemaksiatan
tersebut dan berazam untuk
tidak mengulanginya lagi. Sahal
bin Abdillah berkata:
“Tanda-
tanda orang yang bertaubat
adalah: Dosanya telah
menyibukkan dia dari makan
dan minum-nya. Seperti kisah
tiga sahabat yang tertinggal
perang
”.
2. Merasakan akibat dosa yang
dilakukan.
Ulama salaf berkata:
“Sungguh
ketika saya maksiat pada Allah,
saya bisa melihat akibat dari
maksiat saya itu pada kuda dan
istri saya.
”
3. Menghindar dari lingkungan
yang jelek.
Seperti dalam kisah seorang
yang membunuh 100 orang.
Gurunya berkata:
“Pergilah ke
negeri sana … sesungguhnya
disana ada orang-orang yang
menyembah Allah dengan baik,
maka sembahlah Allah disana
bersama mereka dan janganlah
kamu kembali ke negerimu,
karena negerimu adalah negeri
yang jelek.”
4. Membaca Al-Qur’an dan
mentadabburinya.
5. Berdo’a.
Allah berfirman mengkisahkan
Nabi Ibrahim:
“Ya Tuhan kami,
jadikanlah kami berdua orang
yang tunduk patuh kepada
Engkau dan (jadikanlah) di
antara anak cucu kami umat
yang tunduk patuh kepada
Engkau dan tunjukkanlah
kepada kami cara-cara dan
tempat-tempat ibadat haji kami,
dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.
” Al Maraghi
berkata: “Yang dimaksud
”terimalah taubat kami”
adalah: Bantulah kami untuk
bertaubat agar kami bisa
bertaubat dan kembali kepada-
Mu.
”
6. Mengetahui keagungan Allah
yang Maha Pencipta.
Para ulama salaf berkata:
“
Janganlah engkau melihat
akan kecilnya maksiat, tapi
lihatlah keagungan yang engkau
durhakai.
”
7. Mengingat mati dan
kejadiannya yang tiba-tiba.
8. Mempelajari ayat-ayat dan
hadis-hadis yang menakuti
orang-orang yang berdosa.
9. Membaca sejarah orang-
orang yang bertaubat.
Rabu, 16 Februari 2011
Selasa, 15 Februari 2011
HUKUM NIKAH
Para ulama menyebutkan
bahwa nikah diperintahkan
karena dapat mewujudkan
maslahat; memelihara diri,
kehormatan, mendapatkan
pahala dan lain-lain. Oleh karena
itu, apabila pernikahan justru
membawa madharat maka
nikahpun dilarang. Dari sini
maka hukum nikah dapat dapat
dibagi menjadi lima:
1. Disunnahkan bagi orang yang
memiliki syahwat (keinginan
kepada wanita) tetapi tidak
khawatir berzina atau terjatuh
dalam hal yang haram jika tidak
menikah, sementara dia mampu
untuk menikah.
Karena Allah telah
memerintahkan dan Rasulpun
telah mengajarkannya. Bahkan
di dalam nkah itu ada banyak
kebaikan, berkah dan manfaat
yangb tidak mungkin diperoleh
tanpa nikah, sampai Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Dalam kemaluanmu ada
sedekah.” Mereka
bertanya:”Ya Rasulullah ,
apakah salah seorang kami
melampiaskan syahwatnya lalu
di dalamnya ada pahala?”
Beliau bersabda:”Bagaimana
menurut kalian, jika ia
meletakkannya pada yang
haram apakah ia menanggung
dosa? Begitu pula jika ia
meletakkannya pada yang halal
maka ia mendapatkan pahala.”
(HR. Muslim, Ibnu Hibban)
Juga sunnah bagi orang yang
mampu yang tidak takut zina
dan tidak begitu membutuhkan
kepada wanita tetapi
menginginkan keturunan. Juga
sunnah jika niatnya ingin
menolong wanita atau ingin
beribadah dengan infaqnya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Kamu tidak menafkahkan
satu nafkah karena ingin wajah
Allah melainkan Allah pasti
memberinya pahala, hingga
suapan yang kamu letakkan di
mulut isterimu.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
“Dinar yang kamu nafkahkan
di jalan Allah, dinar yang kamu
nafkahkan untuk budak, dinar
yang kamu sedekahkan pada
orang miskin, dinar yang kamu
nafkahkan pada isterimu maka
yang terbesar pahalanya adalah
yang kamu nafkahkan pada
isterumu.” (HR. Muslim)
2. Wajib bagi yang mampu
nikah dan khawatir zina atau
maksiat jika tidak menikah.
Sebab menghindari yang haram
adalah wajib, jika yang haram
tidak dapat dihindari kecuali
dengan nikah maka nikah
adalah wajib (QS. al Hujurat:6).
Ini bagi kaum laki-laki, adapun
bagi perempuan maka ia wajib
nikah jika tidak dapat
membiayai hidupnya (dan anak-
anaknya) dan menjadi incaran
orang-orang yang rusak,
sedangkan kehormatan dan
perlindungannya hanya ada
pada nikah, maka nikah baginya
adalah wajib.
3. Mubah bagi yang mampu dan
aman dari fitnah, tetapi tidak
membutuhkannya atau tidak
memiliki syahwat sama sekali
seperti orang yang impotent
atau lanjut usia, atau yang tidak
mampu menafkahi, sedangkan
wanitanya rela dengan syarat
wanita tersebut harus rasyidah
(berakal).
Juga mubah bagi yang mampu
menikah dengan tujuan hanya
sekedar untuk memenuhi
hajatnya atau bersenang-
senang, tanpa ada niat ingin
keturunan atau melindungi diri
dari yang haram.
4. Haram nikah bagi orang yang
tidak mampu menikah (nafkah
lahir batin) dan ia tidak takut
terjatuh dalam zina atau
maksiat lainnya, atau jika yakin
bahwa dengan menikah ia akan
jatuh dalam hal-hal yang
diharamkan. Juga haram nikah
di darul harb (wilayah tempur)
tanpa adanya faktor darurat,
jika ia menjadi tawanan maka
tidak diperbolehkan nikah sama
sekali.
Haram berpoligami bagi yang
menyangka dirinya tidak bisa
adil sedangkan isteri pertama
telah mencukupinya.
5. Makruh menikah jika tidak
mampu karena dapat
menzhalimi isteri, atau tidak
minat terhadap wanita dan
tidak mengharapkan
keturunan.. Juga makruh jika
nikah dapat menghalangi dari
ibadah-ibadah sunnah yang
lebih baik. Makruh berpoligami
jika dikhawatirkan akan
kehilangan maslahat yang lebih
besar.
bahwa nikah diperintahkan
karena dapat mewujudkan
maslahat; memelihara diri,
kehormatan, mendapatkan
pahala dan lain-lain. Oleh karena
itu, apabila pernikahan justru
membawa madharat maka
nikahpun dilarang. Dari sini
maka hukum nikah dapat dapat
dibagi menjadi lima:
1. Disunnahkan bagi orang yang
memiliki syahwat (keinginan
kepada wanita) tetapi tidak
khawatir berzina atau terjatuh
dalam hal yang haram jika tidak
menikah, sementara dia mampu
untuk menikah.
Karena Allah telah
memerintahkan dan Rasulpun
telah mengajarkannya. Bahkan
di dalam nkah itu ada banyak
kebaikan, berkah dan manfaat
yangb tidak mungkin diperoleh
tanpa nikah, sampai Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Dalam kemaluanmu ada
sedekah.” Mereka
bertanya:”Ya Rasulullah ,
apakah salah seorang kami
melampiaskan syahwatnya lalu
di dalamnya ada pahala?”
Beliau bersabda:”Bagaimana
menurut kalian, jika ia
meletakkannya pada yang
haram apakah ia menanggung
dosa? Begitu pula jika ia
meletakkannya pada yang halal
maka ia mendapatkan pahala.”
(HR. Muslim, Ibnu Hibban)
Juga sunnah bagi orang yang
mampu yang tidak takut zina
dan tidak begitu membutuhkan
kepada wanita tetapi
menginginkan keturunan. Juga
sunnah jika niatnya ingin
menolong wanita atau ingin
beribadah dengan infaqnya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Kamu tidak menafkahkan
satu nafkah karena ingin wajah
Allah melainkan Allah pasti
memberinya pahala, hingga
suapan yang kamu letakkan di
mulut isterimu.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
“Dinar yang kamu nafkahkan
di jalan Allah, dinar yang kamu
nafkahkan untuk budak, dinar
yang kamu sedekahkan pada
orang miskin, dinar yang kamu
nafkahkan pada isterimu maka
yang terbesar pahalanya adalah
yang kamu nafkahkan pada
isterumu.” (HR. Muslim)
2. Wajib bagi yang mampu
nikah dan khawatir zina atau
maksiat jika tidak menikah.
Sebab menghindari yang haram
adalah wajib, jika yang haram
tidak dapat dihindari kecuali
dengan nikah maka nikah
adalah wajib (QS. al Hujurat:6).
Ini bagi kaum laki-laki, adapun
bagi perempuan maka ia wajib
nikah jika tidak dapat
membiayai hidupnya (dan anak-
anaknya) dan menjadi incaran
orang-orang yang rusak,
sedangkan kehormatan dan
perlindungannya hanya ada
pada nikah, maka nikah baginya
adalah wajib.
3. Mubah bagi yang mampu dan
aman dari fitnah, tetapi tidak
membutuhkannya atau tidak
memiliki syahwat sama sekali
seperti orang yang impotent
atau lanjut usia, atau yang tidak
mampu menafkahi, sedangkan
wanitanya rela dengan syarat
wanita tersebut harus rasyidah
(berakal).
Juga mubah bagi yang mampu
menikah dengan tujuan hanya
sekedar untuk memenuhi
hajatnya atau bersenang-
senang, tanpa ada niat ingin
keturunan atau melindungi diri
dari yang haram.
4. Haram nikah bagi orang yang
tidak mampu menikah (nafkah
lahir batin) dan ia tidak takut
terjatuh dalam zina atau
maksiat lainnya, atau jika yakin
bahwa dengan menikah ia akan
jatuh dalam hal-hal yang
diharamkan. Juga haram nikah
di darul harb (wilayah tempur)
tanpa adanya faktor darurat,
jika ia menjadi tawanan maka
tidak diperbolehkan nikah sama
sekali.
Haram berpoligami bagi yang
menyangka dirinya tidak bisa
adil sedangkan isteri pertama
telah mencukupinya.
5. Makruh menikah jika tidak
mampu karena dapat
menzhalimi isteri, atau tidak
minat terhadap wanita dan
tidak mengharapkan
keturunan.. Juga makruh jika
nikah dapat menghalangi dari
ibadah-ibadah sunnah yang
lebih baik. Makruh berpoligami
jika dikhawatirkan akan
kehilangan maslahat yang lebih
besar.
HIKMAH SYARIAT NIKAH
1. Nikah adalah salah satu
sunnah (ajaran) yang sangat
dianjurkan oleh Rasul Shalallahu
‘Alaihi Wassalam dalam
sabdanya:
“Wahai para pemuda, siapa di
antara kalian yang mampu
menikah (jima’ dan biayanya)
maka nikahlah, karena ia lebih
dapat membuatmu menahan
pandangan dan memelihara
kemaluan. Barangsiapa tidak
mampu menikah maka
berpuasalah, karena hal itu
baginya adalah pelemah
syahwat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Nikah adalah satu upaya
untuk menyempurnakan iman.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Barangsiapa memberi karena
Allah, menahan kerena Allah,
mencintai karena Allah,
membenci karena Allah, dan
menikahkan karena Allah maka
ia telah menyempurnakan
iman.” (HR. Hakim,dia berkata:
Shahih sesuai dg syarat Bukhari
Muslim. Disepakati oleh adz
Dzahabi)
“Barangsiapa menikah maka ia
telah menyempurnakan separuh
iman, hendaklah ia
menyempurnakan sisanya.”
(HR. ath Thabrani, dihasankan
oleh Al Albani)
Kisah:
Al Ghazali bercerita tentang
sebagian ulama, katanya:”Di
awal keinginan saya (meniti
jalan akhirat), saya dikalahkan
oleh syahwat yang amat berat,
maka saya banyak menjerit
kepada Allah. Sayapun bermimpi
dilihat
oleh seseorang, dia
berkata kepada saya:”Kamu
ingin agar syahwat yang kamu
rasakan itu hilang dan (boleh)
aku menebas lehermu? Saya
jawab:”Ya”. Maka dia
berkata:”Panjangkan
(julurkan) lehermu.” Sayapun
memanjangkannya. Kemudian ia
menghunus
pedang dari cahaya
lalu memukulkan ke leherku. Di
pagi hari aku sudah tidak
merasakan adanya syahwat,
maka aku tinggal selama satu
tahun terbebas dari penyakit
syahwat. Kemduian hal itu
datang lagi dan sangat hebat,
maka saya melihat seseorang
berbicara pasa saya antara dada
saya dan samping saya, dia
berkata:”Celaka kamu! Berapa
banyak kamu meminta kepada
Allah untuk menghilangkan
darimu sesuatu yang Allah tidak
suka menghilangkannya!
Nikahlah!” Maka sayapun
menikah dan hilanglah godaan
itu dariku. Akhirnya saya
mendapatkan keturunan.”
(Faidhul Qadir VI/103 no.8591)
3. Nikah adalah satu benteng
untuk menjaga masyarakat dari
kerusakan, dekadensi moral dan
asusila. Maka mempermudah
pernikahan syar’i adalah solusi
dari semu itu. Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Jika datang kepadamu orang
yang kamu relakan akhlak dan
agamanya maka nikahkanlah,
jika tidak kamu lakukan maka
pasti ada fitnah di muka bumi
dan kerusakan yang besar.”
(HR. Hakim, hadits shahih)
4. Pernikahan adalah lingkungan
baik yang mengantarkan kepada
eratnya hubungan keluarga,
dan
saling menukar kasih sayang di
tengah masyarakat. Menikah
dalam Islam bukan hanya
menikahnya dua insan,
melainkan dua keluarga besar.
5. Pernikahan adalah sebaik-
baik cara untuk mendapatkan
anak, memperbanyak keturunan
dengan nasab yang terjaga,
sebagaimana yang Allah pilihkan
untuk para kekasih-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus beberapa Rasul
sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka
isteri-isteri dan keturunan.”
(QS. ar Ra’d:38
6. Pernikahan adalah cara
terbaik untuk melampiaskan
naluri seksual dan memuaskan
syahwat dengan penuh
ketenangan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya wanita itu
menghadap dalam rupa setan
(menggoda) dan membelakangi
dalam rupa setan, maka apabila
salah seorang kamu melihat
seorang wanita yang
menakjubkannya hendaklah
mendatangi isterinya,
sesungguhnya hal itu dapat
menghilangkan syahwat yang
ada dalam dirinya.” (HR.
Muslim, Abu Dawud dan
Tirmidzi)
7. Pernikahan memenuhi naluri
kebapakan dan keibuan, yang
akan berkembang dengan
adanya anak.
8. Dalam pernikahan ada
ketenangan, kedamaian,
kebersihan, kesehatan, kesucian
dan kebahagiaan, yang
diidamkan oleh setiap insan.
sunnah (ajaran) yang sangat
dianjurkan oleh Rasul Shalallahu
‘Alaihi Wassalam dalam
sabdanya:
“Wahai para pemuda, siapa di
antara kalian yang mampu
menikah (jima’ dan biayanya)
maka nikahlah, karena ia lebih
dapat membuatmu menahan
pandangan dan memelihara
kemaluan. Barangsiapa tidak
mampu menikah maka
berpuasalah, karena hal itu
baginya adalah pelemah
syahwat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Nikah adalah satu upaya
untuk menyempurnakan iman.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Barangsiapa memberi karena
Allah, menahan kerena Allah,
mencintai karena Allah,
membenci karena Allah, dan
menikahkan karena Allah maka
ia telah menyempurnakan
iman.” (HR. Hakim,dia berkata:
Shahih sesuai dg syarat Bukhari
Muslim. Disepakati oleh adz
Dzahabi)
“Barangsiapa menikah maka ia
telah menyempurnakan separuh
iman, hendaklah ia
menyempurnakan sisanya.”
(HR. ath Thabrani, dihasankan
oleh Al Albani)
Kisah:
Al Ghazali bercerita tentang
sebagian ulama, katanya:”Di
awal keinginan saya (meniti
jalan akhirat), saya dikalahkan
oleh syahwat yang amat berat,
maka saya banyak menjerit
kepada Allah. Sayapun bermimpi
dilihat
oleh seseorang, dia
berkata kepada saya:”Kamu
ingin agar syahwat yang kamu
rasakan itu hilang dan (boleh)
aku menebas lehermu? Saya
jawab:”Ya”. Maka dia
berkata:”Panjangkan
(julurkan) lehermu.” Sayapun
memanjangkannya. Kemudian ia
menghunus
pedang dari cahaya
lalu memukulkan ke leherku. Di
pagi hari aku sudah tidak
merasakan adanya syahwat,
maka aku tinggal selama satu
tahun terbebas dari penyakit
syahwat. Kemduian hal itu
datang lagi dan sangat hebat,
maka saya melihat seseorang
berbicara pasa saya antara dada
saya dan samping saya, dia
berkata:”Celaka kamu! Berapa
banyak kamu meminta kepada
Allah untuk menghilangkan
darimu sesuatu yang Allah tidak
suka menghilangkannya!
Nikahlah!” Maka sayapun
menikah dan hilanglah godaan
itu dariku. Akhirnya saya
mendapatkan keturunan.”
(Faidhul Qadir VI/103 no.8591)
3. Nikah adalah satu benteng
untuk menjaga masyarakat dari
kerusakan, dekadensi moral dan
asusila. Maka mempermudah
pernikahan syar’i adalah solusi
dari semu itu. Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda:
“Jika datang kepadamu orang
yang kamu relakan akhlak dan
agamanya maka nikahkanlah,
jika tidak kamu lakukan maka
pasti ada fitnah di muka bumi
dan kerusakan yang besar.”
(HR. Hakim, hadits shahih)
4. Pernikahan adalah lingkungan
baik yang mengantarkan kepada
eratnya hubungan keluarga,
dan
saling menukar kasih sayang di
tengah masyarakat. Menikah
dalam Islam bukan hanya
menikahnya dua insan,
melainkan dua keluarga besar.
5. Pernikahan adalah sebaik-
baik cara untuk mendapatkan
anak, memperbanyak keturunan
dengan nasab yang terjaga,
sebagaimana yang Allah pilihkan
untuk para kekasih-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus beberapa Rasul
sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka
isteri-isteri dan keturunan.”
(QS. ar Ra’d:38
6. Pernikahan adalah cara
terbaik untuk melampiaskan
naluri seksual dan memuaskan
syahwat dengan penuh
ketenangan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya wanita itu
menghadap dalam rupa setan
(menggoda) dan membelakangi
dalam rupa setan, maka apabila
salah seorang kamu melihat
seorang wanita yang
menakjubkannya hendaklah
mendatangi isterinya,
sesungguhnya hal itu dapat
menghilangkan syahwat yang
ada dalam dirinya.” (HR.
Muslim, Abu Dawud dan
Tirmidzi)
7. Pernikahan memenuhi naluri
kebapakan dan keibuan, yang
akan berkembang dengan
adanya anak.
8. Dalam pernikahan ada
ketenangan, kedamaian,
kebersihan, kesehatan, kesucian
dan kebahagiaan, yang
diidamkan oleh setiap insan.
MACAM-MACAM MURTAD DALAM KITAB SULAM TAUFIQ
macam-macam
murtad sebagaimana di tulis
dalam Kitab Sulam Taufiq
sebagai berikut :
1. Murtad Fi’ly (perbuatan) :
Yaitu segala aktivitas yang
bisa menyebabkan kita
keluar dari ajaran Islam,
aktivitas tersebut apakah
dilakukan dengan
sungguh-sungguh atau
hanya sekedar bercanda
atau juga bohong-
bohongan semuanya sama
saja termasuk murtad
perbuatan, Contoh : 1)
Bersujud kepada Berhala,
bersujud kepada Matahari.
2) Melakukan ritual agama
lain, perlu hati-hati juga
jika diantara anda ada yang
menjadi
bintang film
memerankan sebagai
seorang non Islam (nonI)
kemudian melakukan
peribadatan seperti
seorang nonI walaupun hal
itu dilakukan hanya
sekedar tuntutan skenario,
tetap saja hal itu termasuk
murtad fi’ly, maka
berhati-hatilah ketika
memilih sebuah peran.
2. Murtad I’tiqady, murtad
jenis ini dilakukan dengan
hati kita seperti Ragu akan
adanya Allah, Ragu Kalau Al
Qur’an itu Firman Allah,
Ragu adanya kehidupan
setelah mati.
3. Murtad Qauly (ucapan) :
yaitu murtad yang
disebabkan lidah atau
ucapan, murtad jenis ini
banyak sekali dan
terkadang kita gak sadar
kalau hal itu termasuk
murtad ucapan. Contoh:
1. Mencemoohkan ayat
suci Al Qur’an :
seperti pernah kita
dengar ada orang
yang membaca
“iyyaaka na’budu
waiyyaaka
nasta
’iin” tapi
didendangkan seperti
irama
manuk dadali..
naudzu billah. Ketika
kita melihat teman
yang memakai baju
kegedean kemudian
kita berkata : “hah
…. bajunya segede
‘alaihim” —
itupun bisa
menyebabkan
murtad.
2. b. Memanggil
seorang muslim
dengan sebutan yang
tidak terpuji, seperti :
Hai Yahudi, Hai Kafir,
Hai Orang yang tidak
beragama, bahkan
jangan anggap
enteng ketika
seseorang
memanggil
seorang
muslim dengan nama
binatang
yang najis
seperti anjing, babi …
itu pun murtad.
Bahkan ketika kita
menuduh suatu
kelompok sebagai
penganut aliran sesat
padahal belum jelas
kesesatannya itupun
bisa menyebabkan
murtad, kecuali kalau
aliran tersebut sudah
jelas kesesatannya
seperti AHMADIYAH
ingat !!!! AHMADIYAH
ITU SESAT.
3. Mengaku adanya Nabi
setelah
Nabi
Muhammad.
Awwass! diakui atau
tidak AHMADIYAH
telah mengakui Mirza
GA sebagai Nabi
itupun murtad,
termasuk kita harus
hati ketika kita
mengatakan : “Al
Hamdulillah ….. ini….
benar-benar
mukjizat
…. berkat
pertolongan bapak
Ustad …. penyakit
yang diderita anak
saya bisa sembuh”.
wah…wah…wah
gawat… bukankah
kita tahu kalau
mukjizat itu hanya
diberikan kepada
Para Nabi dan
Rasul ?. Terus kalau
kita nyebut mukjizat
kepada selain Rasul
apakah saat itu kita
secara tidak langsung
mengakui
seseorang
itu sebagai Rasul.
4. Dan masih banyak
lagi contoh murtad
lainnya.
murtad sebagaimana di tulis
dalam Kitab Sulam Taufiq
sebagai berikut :
1. Murtad Fi’ly (perbuatan) :
Yaitu segala aktivitas yang
bisa menyebabkan kita
keluar dari ajaran Islam,
aktivitas tersebut apakah
dilakukan dengan
sungguh-sungguh atau
hanya sekedar bercanda
atau juga bohong-
bohongan semuanya sama
saja termasuk murtad
perbuatan, Contoh : 1)
Bersujud kepada Berhala,
bersujud kepada Matahari.
2) Melakukan ritual agama
lain, perlu hati-hati juga
jika diantara anda ada yang
menjadi
bintang film
memerankan sebagai
seorang non Islam (nonI)
kemudian melakukan
peribadatan seperti
seorang nonI walaupun hal
itu dilakukan hanya
sekedar tuntutan skenario,
tetap saja hal itu termasuk
murtad fi’ly, maka
berhati-hatilah ketika
memilih sebuah peran.
2. Murtad I’tiqady, murtad
jenis ini dilakukan dengan
hati kita seperti Ragu akan
adanya Allah, Ragu Kalau Al
Qur’an itu Firman Allah,
Ragu adanya kehidupan
setelah mati.
3. Murtad Qauly (ucapan) :
yaitu murtad yang
disebabkan lidah atau
ucapan, murtad jenis ini
banyak sekali dan
terkadang kita gak sadar
kalau hal itu termasuk
murtad ucapan. Contoh:
1. Mencemoohkan ayat
suci Al Qur’an :
seperti pernah kita
dengar ada orang
yang membaca
“iyyaaka na’budu
waiyyaaka
nasta
’iin” tapi
didendangkan seperti
irama
manuk dadali..
naudzu billah. Ketika
kita melihat teman
yang memakai baju
kegedean kemudian
kita berkata : “hah
…. bajunya segede
‘alaihim” —
itupun bisa
menyebabkan
murtad.
2. b. Memanggil
seorang muslim
dengan sebutan yang
tidak terpuji, seperti :
Hai Yahudi, Hai Kafir,
Hai Orang yang tidak
beragama, bahkan
jangan anggap
enteng ketika
seseorang
memanggil
seorang
muslim dengan nama
binatang
yang najis
seperti anjing, babi …
itu pun murtad.
Bahkan ketika kita
menuduh suatu
kelompok sebagai
penganut aliran sesat
padahal belum jelas
kesesatannya itupun
bisa menyebabkan
murtad, kecuali kalau
aliran tersebut sudah
jelas kesesatannya
seperti AHMADIYAH
ingat !!!! AHMADIYAH
ITU SESAT.
3. Mengaku adanya Nabi
setelah
Nabi
Muhammad.
Awwass! diakui atau
tidak AHMADIYAH
telah mengakui Mirza
GA sebagai Nabi
itupun murtad,
termasuk kita harus
hati ketika kita
mengatakan : “Al
Hamdulillah ….. ini….
benar-benar
mukjizat
…. berkat
pertolongan bapak
Ustad …. penyakit
yang diderita anak
saya bisa sembuh”.
wah…wah…wah
gawat… bukankah
kita tahu kalau
mukjizat itu hanya
diberikan kepada
Para Nabi dan
Rasul ?. Terus kalau
kita nyebut mukjizat
kepada selain Rasul
apakah saat itu kita
secara tidak langsung
mengakui
seseorang
itu sebagai Rasul.
4. Dan masih banyak
lagi contoh murtad
lainnya.
PENGERTIAN DAN HUKUM ZINA
PENGERTIAN ZINA
Ialah persetubuhan yang
dilakukan oleh seorang lelaki
dengan seorang perempuan
tanpa nikah yang sah mengikut
hukum syarak (bukan pasangan
suami isteri) dan kedua-duanya
orang yang mukallaf, dan
persetubuhan itu tidak
termasuk dalam takrif
(persetubuhan yang
meragukan).
Jika seorang lelaki melakukan
persetubuhan dengan seorang
perempuan, dan lelaki itu
menyangka bahawa perempuan
yang disetubuhinya itu ialah
isterinya, sedangkan perempuan
itu bukan isterinya atau lelaki
tadi menyangka bahawa
perkahwinannya dengan
perempuan yang disetubuhinya
itu sah mengikut hukum syarak,
sedangkan sebenarnya
perkahwinan mereka itu tidak
sah, maka dalam kes ini kedua-
dua orang itu tidak boleh
didakwa dibawah kes zina dan
tidak boleh dikenakan hukuman
hudud, kerana persetubuhan
mereka itu adalah termasuk
dalam wati’ subhah iaitu
persetubuhan yang meragukan.
Mengikut peruntukan hukuman
syarak yang disebutkan di
dalam Al-Qur
’an dan Al-Hadith
yang dikuatkuasakan dalam
undang-undang Qanun Jinayah
Syar
’iyyah bahawa orang yang
melakukan perzinaan itu apabila
sabit kesalahan di dalam
mahkamah wajib dikenakan
hukuman hudud, iaitu disebat
sebanyak 100 kali sebat.
Sebagaimana Firman Allah
Subhanahu Wa Ta’ala yang
bermaksud :
“
Perempuan yang berzina dan
lelaki yang berzina, hendaklah
kamu sebat tiap-tiap seorang
dari kedua-duanya 100 kali
sebat, dan janganlah kamu
dipengaruhi oleh perasaan belas
kasihan terhadap keduanya
dalam menjalankan hukum
Agama Allah, jika benar kamu
beriman kepada Allah dan hari
Akhirat, dan hendaklah
disaksikan hukuman siksa yang
dikenakan kepada mereka itu
oleh sekumpulan dari orang-
orang yang beriman
”. (Surah
An- Nur ayat 2)
ZINA TERBAHAGI KEPADA DUA :
1. ZINA MUHSAN
2. ZINA BUKAN MUHSAN
ZINA MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan
yang telah pernah melakukan
persetubuhan yang halal (sudah
pernah berkahwin)
ZINA BUKAN MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan
yang belum pernah melakukan
persetubuhan yang halal (belum
pernah berkahwin).
Perzinaan yang boleh dituduh
dan didakwa dibawah kesalahan
Zina Muhsan ialah lelaki atau
perempuan yang telah baligh,
berakal, merdeka dan telah
pernah berkahwin, iaitu telah
merasai kenikmatan
persetubuhan secara halal.
Penzinaan yang tidak cukup
syarat-syarat yang disebutkan
bagi perkara diatas tidak boleh
dituduh dan didakwa dibawah
kesalahan zina muhsan, tetapi
mereka itu boleh dituduh dan
didakwa dibawah kesalahan
zina bukan muhsan mengikut
syarat-syarat yang dikehendaki
oleh hukum syarak.
HUKUMAN YANG DIKENAKAN
KEATAS ORANG YANG ZINA
MUHSAN DAN BUKAN MUHSAN
Seseorang yang melakukan zina
Muhsan, sama ada lelaki atau
perempuan wajib dikenakan
keatas mereka hukuman had
(rejam) iaitu dibaling dengan
batu yang sederhana besarnya
hingga mati. Sebagaimana yang
dinyatakan di dalam kitab
I
’anah Al- Thalibin juzuk 2
muka surat 146 yang
bermaksud :
”
Lelaki atau perempuan yang
melakukan zina muhsan wajib
dikenakan keatas mereka had
(rejam), iaitu dibaling dengan
batu yang sederhana besarnya
sehingga mati
”.
Seseorang yang melakukan zina
bukan muhsan sama ada lelaki
atau perempuan wajib
dikenakan ke atas mereka
hukuman sebat 100 kali sebat
dan buang negeri selama
setahun sebagaimana terdapat
di dalam kitab Kifayatul Ahyar
juzuk 2 muka surat 178 yang
bermaksud :
”
Lelaki atau perempuan yang
melakukan zina bukan muhsin
wajib dikenakan keatas mereka
sebat 100 kali sebat dan buang
negeri selama setahun
”.
PEREMPUAN YANG DI ROGOL DAN
DI PERKOSA
Perempuan-perempuan yang
dirogol atau diperkosa oleh
lelaki yang melakukan perzinaan
dan telah disabit dengan bukti
–
bukti yang diperlukan oleh
syarak dan tidak menimbulkan
sebarang keraguan dipihak
hakim bahawa perempuan itu
dirogol dan diperkosa, maka
dalam kes ini perempuan itu
tidak boleh dijatuhkan dan
dikenakan hukuman hudud,dan
ia tidak berdosa dengan sebab
perzinaan itu.
Lelaki yang merogol atau
memperkosa perempuan
melakukan perzinaan dan telah
sabit kesalahannya dengan
bukti
– bukti dan keterangan
yang dikehendaki oleh syarak
tanpa sebarang keraguan
dipihak hakim, maka hakim
hendaklah menjatuhkan
hukuman hudud keatas lelaki
yang merogol perempuan itu,
iaitu wajib dijatuhkan dan
dikenakan ke atas lelaki itu
hukuman rejam dan sebat.
Perempuan-perempuan yang
telah disabitkan oleh hakim
bahawa ia adalah dirogol dan
diperkosa oleh lelaki melakukan
perzinaan, maka hakim
hendaklah membebaskan
perempuan itu dari hukuman
hudud (tidak boleh direjam dan
disebat) dan Allah
mengampunkan dosa
perempuan itu di atas perzinaan
secara paksa itu.
Ialah persetubuhan yang
dilakukan oleh seorang lelaki
dengan seorang perempuan
tanpa nikah yang sah mengikut
hukum syarak (bukan pasangan
suami isteri) dan kedua-duanya
orang yang mukallaf, dan
persetubuhan itu tidak
termasuk dalam takrif
(persetubuhan yang
meragukan).
Jika seorang lelaki melakukan
persetubuhan dengan seorang
perempuan, dan lelaki itu
menyangka bahawa perempuan
yang disetubuhinya itu ialah
isterinya, sedangkan perempuan
itu bukan isterinya atau lelaki
tadi menyangka bahawa
perkahwinannya dengan
perempuan yang disetubuhinya
itu sah mengikut hukum syarak,
sedangkan sebenarnya
perkahwinan mereka itu tidak
sah, maka dalam kes ini kedua-
dua orang itu tidak boleh
didakwa dibawah kes zina dan
tidak boleh dikenakan hukuman
hudud, kerana persetubuhan
mereka itu adalah termasuk
dalam wati’ subhah iaitu
persetubuhan yang meragukan.
Mengikut peruntukan hukuman
syarak yang disebutkan di
dalam Al-Qur
’an dan Al-Hadith
yang dikuatkuasakan dalam
undang-undang Qanun Jinayah
Syar
’iyyah bahawa orang yang
melakukan perzinaan itu apabila
sabit kesalahan di dalam
mahkamah wajib dikenakan
hukuman hudud, iaitu disebat
sebanyak 100 kali sebat.
Sebagaimana Firman Allah
Subhanahu Wa Ta’ala yang
bermaksud :
“
Perempuan yang berzina dan
lelaki yang berzina, hendaklah
kamu sebat tiap-tiap seorang
dari kedua-duanya 100 kali
sebat, dan janganlah kamu
dipengaruhi oleh perasaan belas
kasihan terhadap keduanya
dalam menjalankan hukum
Agama Allah, jika benar kamu
beriman kepada Allah dan hari
Akhirat, dan hendaklah
disaksikan hukuman siksa yang
dikenakan kepada mereka itu
oleh sekumpulan dari orang-
orang yang beriman
”. (Surah
An- Nur ayat 2)
ZINA TERBAHAGI KEPADA DUA :
1. ZINA MUHSAN
2. ZINA BUKAN MUHSAN
ZINA MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan
yang telah pernah melakukan
persetubuhan yang halal (sudah
pernah berkahwin)
ZINA BUKAN MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan
yang belum pernah melakukan
persetubuhan yang halal (belum
pernah berkahwin).
Perzinaan yang boleh dituduh
dan didakwa dibawah kesalahan
Zina Muhsan ialah lelaki atau
perempuan yang telah baligh,
berakal, merdeka dan telah
pernah berkahwin, iaitu telah
merasai kenikmatan
persetubuhan secara halal.
Penzinaan yang tidak cukup
syarat-syarat yang disebutkan
bagi perkara diatas tidak boleh
dituduh dan didakwa dibawah
kesalahan zina muhsan, tetapi
mereka itu boleh dituduh dan
didakwa dibawah kesalahan
zina bukan muhsan mengikut
syarat-syarat yang dikehendaki
oleh hukum syarak.
HUKUMAN YANG DIKENAKAN
KEATAS ORANG YANG ZINA
MUHSAN DAN BUKAN MUHSAN
Seseorang yang melakukan zina
Muhsan, sama ada lelaki atau
perempuan wajib dikenakan
keatas mereka hukuman had
(rejam) iaitu dibaling dengan
batu yang sederhana besarnya
hingga mati. Sebagaimana yang
dinyatakan di dalam kitab
I
’anah Al- Thalibin juzuk 2
muka surat 146 yang
bermaksud :
”
Lelaki atau perempuan yang
melakukan zina muhsan wajib
dikenakan keatas mereka had
(rejam), iaitu dibaling dengan
batu yang sederhana besarnya
sehingga mati
”.
Seseorang yang melakukan zina
bukan muhsan sama ada lelaki
atau perempuan wajib
dikenakan ke atas mereka
hukuman sebat 100 kali sebat
dan buang negeri selama
setahun sebagaimana terdapat
di dalam kitab Kifayatul Ahyar
juzuk 2 muka surat 178 yang
bermaksud :
”
Lelaki atau perempuan yang
melakukan zina bukan muhsin
wajib dikenakan keatas mereka
sebat 100 kali sebat dan buang
negeri selama setahun
”.
PEREMPUAN YANG DI ROGOL DAN
DI PERKOSA
Perempuan-perempuan yang
dirogol atau diperkosa oleh
lelaki yang melakukan perzinaan
dan telah disabit dengan bukti
–
bukti yang diperlukan oleh
syarak dan tidak menimbulkan
sebarang keraguan dipihak
hakim bahawa perempuan itu
dirogol dan diperkosa, maka
dalam kes ini perempuan itu
tidak boleh dijatuhkan dan
dikenakan hukuman hudud,dan
ia tidak berdosa dengan sebab
perzinaan itu.
Lelaki yang merogol atau
memperkosa perempuan
melakukan perzinaan dan telah
sabit kesalahannya dengan
bukti
– bukti dan keterangan
yang dikehendaki oleh syarak
tanpa sebarang keraguan
dipihak hakim, maka hakim
hendaklah menjatuhkan
hukuman hudud keatas lelaki
yang merogol perempuan itu,
iaitu wajib dijatuhkan dan
dikenakan ke atas lelaki itu
hukuman rejam dan sebat.
Perempuan-perempuan yang
telah disabitkan oleh hakim
bahawa ia adalah dirogol dan
diperkosa oleh lelaki melakukan
perzinaan, maka hakim
hendaklah membebaskan
perempuan itu dari hukuman
hudud (tidak boleh direjam dan
disebat) dan Allah
mengampunkan dosa
perempuan itu di atas perzinaan
secara paksa itu.
Langganan:
Postingan (Atom)